Pages

Testimoni Seorang Pecandu

Minggu, 17 Mei 2015

Ilustrasi: shreyapandey.wordpress.com

Ilustrasi: shreyapandey.wordpress.com
Pertama kali aku mencoba inex (jenis pil ecstacy) saat di sebuah club di kota Perth, Australia. Saat itu dugem (dunia gemerlap) memang bukan hal asing untukku. Ketika di Jakarta pun aku sudah mencicipi minuman beralkohol saat usia SMP, dan mencoba mariyuana ketika masa SMA. Hingga ketika aku berkuliah jauh dari rumah pun setiap weekend aku selalu clubbing di negeri kangguru itu.

Seorang Vietnamese di sebuah club waktu itu mendekatiku, mengajak kenalan, dan kita ngobrol. Ia lalu menawarkan 2 butir pil inex untuk ku tenggak.. aku mencoba.. satu … dua … tiga … untuk mendapatkan sensasinya. Dan dari perkenalan itu pula Nguyen (sebut saja begitu, bukan nama sebenarnya) menawarkanku untuk suatu saat mampir ke apartemennya. Ia menyebutkan memiliki shabu-shabu yang bisa dikonsumsi gratis untukku.

Hingga suatu hari aku hubungi Nguyen dan memberitahukan akan mampir ke tempatnya. Di apartemen itulah pertama kali aku belajar bagaimana mengonsumsi shabu-shabu. Dan seminggu kemudian aku kembali ke tempatnya, dan beberapa hari kemudian lagi. Itu karena aku bisa mengonsumsi itu dengan gratis. Namun setelahnya, aku semakin kecanduan. Aku mulai mengonsumsi shabu-shabu dari mulai seminggu dua kali, sampai hampir setiap hari aku membutuhkan barang jahanam itu.

Uang dari hasil kerjaku sebagai waitress waktu itu banyak kuhabiskan untuk membeli shabu-shabu. Nguyen kerap mengantarkan pesananku ke tempat aku bekerja di Freemantle. Dan begitulah kehidupanku saat itu. Kuliah, kerja, mengonsumsi narkoba, itu terus. Aku terjaga dan melek setiap hari hampir 24 jam. Karena shabu-shabu itu aku baru tidur jam 5 pagi, beruntung jaringan internet di sana sangat murah dan cepat aksesnya yang menjadi teman setia, lalu bersiap-siap beraktivitas lagi.. hingga malam, dan seterusnya.

Law of attraction, bagaimana diri kita akan saling bertemu dengan orang yang seperti kita juga. Dan begitulah di college kala istirahat, aku pun sering ngumpul bareng dengan Dave (sebut saja begitu), warga Australia pemakai heroin. Dan akhirnya suatu hari aku pun mampir ke kediaman Dave untuk mencoba barang haram itu.

Tiga kali aku mencoba dengan jarum suntik. Dan semakin aku kecanduan akan narkoba. Tapi aku memilih untuk kembali ke shabu-shabu dan mariyuana untuk mengatasi rasa ‘ingin’ku.
Kembali aku berkenalan dengan teman-teman tanah air yang juga pengonsumsi narkoba. Di flat mereka selalu tersedia mariyuana satu ember siap untuk kukonsumsi dengan bebas. Aku semakin jatuh terjerat dalam lingkungan tanpa masa depan.

Kebiasaanku itu mampu kututupi dengan baik di antara teman-temanku lainnya 
yang bukan pecandu. Bahkan teman serumahku, sahabat baikku sendiri tidak pernah tau bahwa aku selama ini adalah seorang pecandu.
Dan rasa kecanduan itu semakin gila. Jika aku sedang membutuhkan rasanya sakit sekali seluruh badanku.. panas dingin.. dan rasanya ingin menyakiti diri sendiri agar rasa itu hilang… aku pernah menyilet-nyilet tangan untuk merasakan pedihnya.. tapi aku sama sekali tak merasakan perihnya goresan silet itu.

Hidup sebagai pecandu dan clubbers masih terus kujalani meski telah lulus kuliah dan kembali ke Jakarta. terlebih setelah aku bekerja di Jakarta dan memiliki pendapatan yang cukup besar kala itu. Bekerja di sebuah perusahaan asing dengan bos bule yang mempercayakan kunci apartemennya padaku. Dan seperti biasa law of attraction itu terjadi lagi. Aku berteman dengan seorang pemakai juga di kantor, dan kami sering pesta narkoba di apartemen bos-ku itu.

Hingga kehidupan seperti itu suatu saat berubah total…
Saat aku bertemu dengan seorang yang menerimaku apa adanya. Aku bisa berterus terang tentang seluruh latar belakangku, mengapa dan bagaimana sehingga aku menjadi seorang pecandu.

Dan akhirnya kami berumah-tangga…
Tuhan Maha Baik saat Dia memberikanku jalan terang… aku mulai mencoba memakai kerudung… aku mencoba kembali mendekatkan diri pada Tuhan.. dan berpasrah atas segala vonis medis akan diriku…
Beberapa vonis dokter atas kondisi medisku adalah bahwa aku tidak akan memiliki anak karena memiliki masalah dengan alat reproduksiku. Dan aku juga telah divonis akan mendapatkan stroke di usia muda. Dan ada beberapa penyakit medis lainnya sebagai efek berbagai obat-obatan terlarang maupun kondisi psikisku.

Tuhan Maha Baik.. Dia menjungkirbalikkan vonis dokter… saat aku berdoa dan sangat menginginkan buah hati dari rumah tanggaku.

Tuhan Maha Baik saat ia perlahan mengangkat beberapa penyakit yang kuderita yang membuatku rutin meminum obat-obatan…

Telah 9 tahun sudah aku berhenti menggunakan narkoba…
Dan itu tak pernah mudah.. tak pernah mudah untuk bisa berhenti…
Suamiku sebagai penampung racun, menjadi tempat detox batin untukku, sekaligus menjadi sarana rehabilitasiku yang berat sekali…
Aku sering mengamuk dengan mood swing yang ekstrim jika sedang membutuhkan barang-barang itu. Aku tak mempedulikan anak-anak, yang ada hanyalah keinginan untuk mendapatkan barang haram itu…

Obat sakit kepala, obat tidur dan obat-obatan lainnya yang sudah tidak jelas lagi kadang kutenggak yang sudah tidak ketahuan lagi berapa banyak, puluhan mungkin hanya sekedar menghilankan pusing yang tidak karuan itu…
Kurasakan, paling tidak ada 3 hal untuk bagaimana kita bisa berhenti dari kecanduan narkoba.

Pertama, ’jalan terang’ dari Tuhan.

Kedua adalah tekad kuat untuk berhenti.

Ketiga:
Berhenti melakukan penyangkalan-penyangkalan akan realita masa lalu yang menyebabkan kita jatuh pada jeratan narkoba. Kita harus bisa menerima segala latar belakang pahit atas siapa diri kita, terlahir di keluarga yang seperti apa, dan berani membuka diri kepada dunia, bahwa ya.. aku ingin sembuh…

Dan ke-empat adalah…
Cinta dan sahabat. Cinta dari orang-orang terdekat yang menerima apa adanya, dan lingkungan sahabat yang menopang kita di kala apapun… Baik itu sahabat lama maupun sahabat-sahabat baru yang kutemukan di Kompasiana. Para sahabat yang tulus mengasihiku dalam kondisi apapun. Dan mereka kubutuhkan dalam mengatasi ‘rasa ingin’ku akan candu itu.

Dari Kompasiana ini aku mengenal banyak sahabat dari berbagai komunitas. Kampret (Kompasianer Hoby Jepret), FC (Fiksiana Community), IDKita, KoplakYoBand, dan yang pasti sahabat-sahabatku dari Kumpulan Emak Blogger (KEB). Merekalah yang menjadi penguat batinku untuk tidak lagi kembali pada kehidupan yang tanpa arah.. dan kini.. aku mulai memiliki mimpi.. dan bersama para sahabat, kubangun mimpi-mimpi itu.
1372130826848320600
dok. pribadi
(Love)
*Testimoni ini merupakan catatan yang kelak akan dibaca oleh putri-putri ku, sebagai penyampai pesan bahwa sekali saja mencoba narkoba, kita akan terjerat, metabolisme tubuh kita berubah, syaraf-syaraf di otak berubah, dan dikendalikan oleh rasa nikmat palsu dari narkoba.

Diambil dari Kompasiana. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar